Skip to main content

KH Masjkoer


Kh. Masjkoer dilahirkan pada 30 desember 1902 di Singasari, Malang ayahnya bernama KH Maksoem berasal dari daerah Kudus, Jawa Tengah sedangkan ibunya bernama Maemunah anak kiai Rahim, seorang guru pesantren di Singasari Malang Jawa Timur. Karena ayah Masjkoer mempunyaiprinsip tidak bekerjasama dengan pemerintah Belanda, maka ia tidak mau menyekelohkan anak-anaknya pada sekolah pemerintah belanda.

Masjkoer dididik dari pesantren yang satu ke pesantren yang lain. Masjkoer pertama kali dididik di pesantren Bungkuk, pimpinan kiai Tohir. Di pesantren itu ia mempelajari dua macam cara para santri membaca Al-quran. Pertama cara sarogon yaitu Kiai memberi contoh cara membaca Al-Quran kemudian diikuti santrinya, kedua cara weton di mana kiai membaca sejumlah ayat sedangkan santrinya menyimak dengan tekun dan baik.

Pelajaran yang diberikan di pindik pesantren memang beraneka ragam terutama mengenai pengetahuan agama. Mulai dari subuh hingga zuhur, kemudian disambung pada malam harinya, begitu seterusnya. Setelah selesai di pesantren Bungkuk, Masjkoer pindah ke pesantren Sono, Buduran Sidoarjo untuk belajar sorof dan nahu. Empat tahun kemudian dieruskan lagi ke pesantren siwalan panji, sidoarjo untuk belajar fiqih, kemudian ke pondok pesantren tebuireng untuk belajar ilmu tafsir dan hadis dengan guru Kiai Hasiari.

Setelah dipandang cukup, Masjkoer pindah lagi ke pesantren Bangkalan di Madura untuk belajar Qiro’at Al-qur’an pada kiai Kholil selama satu tahun. Dari sini beliau pindah ke pesantren Jamsaren di Solo. Dari pendidikan yang didapat dipesantren itulah maj=sjkoer mendapat banyak pengetahuan selain ilmu agama juga tentang tata cara hidup tolong menolong sesama teman, ilmu tentang keterampilan dan lain-lain.

Para santri lulusan pesantren pada umumunya tidak lagi canggung hidup mandiri kalau sudah selesai pendidikannya. Suatu hal yang dapat diamati dan dilihat oleh masjkoer pada masa pemerintahan belanda adalah bahwa ulama-ulama pada masa dahulu karena rasa nasionalismenya tinggi dan kuatnya semangat non koperator terhadap musuh maka para santrinya tidak dibenarkan untuk meniru tingkah laku dan tabiat orang asing, itu bahkan menggunakan bahasa belanda pun dilarang keras. Berpakaian secara barat pun tidak dibenarkan.